RSS

Sistem Ekskresi

20 Feb

Pendahuluan

        Pada umumnya sisa-sisa buangan metabolisme dalam tubuh manusia dibuang melalui sistem urinaria. Meskipun sistem urinaria menekskresikan sisa-sisa buangan metabolisme yang dihasilkan oleh sistem tubuh lainnya, namun sistem ini  bukanlah satu-satunya organ yang terlibat dalam ekskresi karena sistem urinaria, integumen, respiratoris dan degestivus bersama-sama berperan dalam sistem ekskresi. Ginjal  merupakan organ yang berfungsi untuk memindahkan sisa-sisa metabolisme dari sirkulasi darah sehingga menghasilkan urine. Untuk memahami mekanisme ekskresi pada manusia maka pemahaman tidak saja  meliputi struktur dan fungsi  organ-organ ekskresi, tapi juga bagaimana mekanisme pembentukkan urine di ginjal yang kemudian ditransportasikan ke vesika urinaria yang pada akhirnya dikeluarkan ke luar tubuh.

 

Kegiatan  Belajar

1

STRUKTUR  DAN  FUNGSI  SISTEM URINARIA

 

  1. 1.                  Stuktur  dan fungsi sistem urinaria

Struktur  sistem urinaria  terdiri dari ginjal, ureter, vesika urinaria dan uretra.  Sistem urinaria mempunyai 3 fungsi utama yaitu: 

a.       Ekskresi:  mengeluarkan hasil sisa metabolisme  organik dari cairan tubuh,

b.        Membuang   sisa sisa metabolisme tersebut ke luar tubuh dan

c.        Pengaturan homeostasis  volume dan konsentrasi solut plasma darah.

Selain memindahkan sisa metabolisme yang dihasilkan oleh sel, sistem urinaria mempunyai fungsi homeostasis lainnya sebagai berikut:

  • Mengatur volume dan tekanan darah dengan melalui pengaturan  volume air yang  hilang  melalui urine, pelepasan eritropoitin dan pelepasan renin.
  • Mengatur konsentrasi natrium, kalium, klorida dan ion lainnya dalam plasma melalui pengaturan jumlah yang hilang melalui urine dan mengatur konsentrasi  ion kalsium  melalui sintesis  kalsitriol.
  • Menstabilkan pH dengan mengontrol hilangnya  ion hidrogen dan bikarbonat dalam urine
  • Konsenrvasi nutrien yang masih dibutuhkan oleh tubuh dengan mencegah keluarnya  bersama urine ketika diekskresikan bersama sisa metabolisme.
  • Membantu hati dalam proses detoksifikasi racun dan selama kelaparan deaminasi asam amino  sehingga dapat dimetabolisme oleh jaringan yang lain.

1.1.            Ginjal

        Ginjal manusia  terdiri dari sepasang, terdapat di dalam  rongga abdomen tepatnya pada kedua sisi  kolumna vertebra antara T12 dan L3. Ginjal kiri letaknya  agak lebih superior dibandingkan dengan ginjal kanan.  Pada individu  dewasa, ginjal  berwarna cokelat kemerah-merahan dengan panjang kira-kira 10 cm, lebar 5.5 cm dan tebal 3 cm.  Setiap ginjal  bobotnya kira-kira 150 gram. Lapisan luar ginjal ditutupi oleh kapsula fibrosa yang merupakan lapisan serabut kolagen.  Ginjal   terdiri dari korteks di bagian luar dan  medulla di bagian dalam.  Korteks renalis merupakan bagian superficial  dari ginjal yang berkontak dengan kapsula fibrosa.  Korteks berwarna cokelat kemerah-merahan dan granular sedangkan medula renalis terdiri dari 6 sampai 18  struktur yang berbentuk trianggular yang disebut piramid renalis.  Piramid renalis mengadakan penonlolan- penonjolan ke dalam sinus renalis

        Setiap piramid mempunyai serangkaian lekuk  runcing yang  berkumpul di papilla.  Papila papilla dibatasi oleh pita yang disebut kolumna  renalis.yang meluas ke medulla.    Produksi urine terjadi di lobus renalis.  Duktus pada setiap papilla renalis mengalirkan  urine ke kaliks minor yang  berbentuk mangkuk.  Empat  sampai 5 kaliks minor bergabung membentuk kaliks mayor dan 2 atau 3 kaliks mayor  bergabung membentuk pelvis renalis.yang berhubungan dengan ureter

Nepron:  Unit fungsional dari ginjal adalah nepron.  Pada manusia jumlahnya ada kira-kira 1 juta setiap ginjal.  Setiap nepron terdiri dari  korpus renalis dan tubulus renalis.  Setiap korpus renalis mempunyai diameter  150-250 μm yang  terdiri dari kapsul Bouman dan jaringan kapiler glomerulus yang dilapisi oleh sel-sel epitel skuamosa epithelium kapsular yang  selanjutnya   menjadi epiteliun viseral yang menutupi kapiler glomerular.  Pada epitelium viseral tedapat  sel-sel besar dengan tonjolan-tonjolan atau kaki yang dikenal dengan podosit. Tubulus renalis terdiri dari tubulus proksimalis yang merupakan segmen pertama tubulus renalis,  lengkung (Ansa) Henle  merupakan saluran yang turun ke arah medulla renalis membentuk lengkung nepron yang terdiri dari   cabang descenden dan ascenden.  Cairan di descenden mengalir ke arah pelvis  renalis sedangkan ascenden  kearah korteks renalis.  Masing-masing segmen mempunyai segmen tebal dan segmen tipis. Tubulus distalis merupakan segmen ke tiga dari tubulus renalis dengan diameter yang lebih kecil dibandingkan dengan tubulus  proksimalis  dengan   sel-sel epitel yang mempunyai sedikit mikrovili. Tubulus koleduktus  merupakan segmen terakhir dari nepron yang terbuka ke sistem pengumpul.  Setiap nepron mengalirkan isinya ke duktus koleduktus dan beberapa  duktus koleduktus   bergabung menjadi duktus papilaris yang kemudian mengosongkan isinya ke kaliks minor.

1.2.            Ureter

 Ureter  merupakan saluran muskular, dimulai  dari ginjal  sampai ke vesika urinaria yang jaraknya kira-kira 30 cm.  Letak ureter retroperitoneal dan agak berdempetan dengan dinding posterior abdomen. 

1.3.            Vesika urenaria

         Merupakan organ muskular yang berbentuk cekung yang berfungsi sebagai  penampung dan menyimpan urine untuk sementara waktu.  Dinding  vesika urinaria terdiri dari lapisan mukosa, sub mukosa dan muskularis.  Lapisan mukosa yang melapisi vesika urinaria biasanya  mengadakan lipatan-lipatan atau rugae yang akan menghilang apabila vesika  terisi dengan urine. Daerah triangular yang mengelilingi bukaan ureter dan  menuju ke uretra disebut dengan trigon vesika urinaria.   Uretra keluar dari bagian apeks trigon  di bagian bawah vesika urinaria. Daerah  sekeliling  vesika urinaria dimana  masuk ke uretra  dikenal sebagai leher vesika urinaria yang merupakan otot spinkter uretral internal atau spinkter vesika.  Otot-polos pada spinkter menyediakan kontrol involuntari untuk pengosongan  vesika urinaria.  Vesika urinaria di persarafi pleksus hipogastrik dan serabut parasimpatis dari ganglion intramural yang dikontrol oleh percabangan saraf pelvis.

1.4.            Uretra

        Merupakan saluran yang berasal dari leher vesika urinaria yang membawa urine ke luar dari tubuh.  Panjang dan fungsi  uretra pada pria dan wanita berbeda.  Pada pria uretra dimulai dari leher vesika urinaria sampai ujung penis yang jaraknya kira-kira 18-20 cm.  Pada wanita sangat pendek hanya kira-kira 3-5 cm dimana lubang  uretra eksternal berada dekat dinding anterior vagina.  Pada pria dan wanita, dimana uretra melintasi  diapragma urogenetal terdapat pita sirkular dari otot skelet membentuk spinkter uretral eksterior yang bekerja sebagai katub.  Spinker ini  bekerja di bawah control voluntari  melalui persarafan cabang perineal dari saraf  pudental.

2.         Suplai Darah dan Persarafan pada Ginjal

       Ginjal menerima darah  20-25% dari keseluruhan keluaran jantung (cardiac output).  Dalam   keadaan normal, pada individu yang sehat,  kira-kira 1200 ml darah yang mengalir ke ginjal setiap menit.  Sebuah jumlah yang sangat besar bila dikaitkan dengan bobot  organ yang hanya berkisar 300 gram.  Setiap ginjal menerima suplai darah melalui arteri renalis.  Ketika memasuki  sinus renalis, arteri renalis  menyediakan darah untuk arteri segmental yang selanjutnya  bercabang membentuk serangkaian arteri interlobaris.  Arteri interlobularis  memberikan suplai darah ke arteri arkuata yang  melengkung sepanjang perbatasan antara korteks dan medula ginjal.  Setiap arteri arkuata bercabang menjadi  arteri radiata kortikal yang juga dikenal dengan arteri interlobularis yang kemudian bercabang cabang membentuk sejumlah arteriol afferent yang membawa darah ke kapiler darah yang memberikan suplai darah pada setiap nepron.  Dari kapiler kapiler nepron, darah memasuki jaringan venula dan vena-vena kecil yang bergabung menjadi vena rariata kortikal yang dikenal juga dengan vena interlobular yang mengalirkan darah secara langsung ke vena renalis.

       Ginjal dan ureter dipersarafi oleh saraf renalis.  Kebanyakan serabut-serabut saraf yang terlibat adalah saraf simpatis yang berasal pleksus siliaka dan saraf splanknik inferior. Persarafan simpatis yang mengatur laju pembentukkan urine dengan merubah aliran  dan tekanan darah pada nepron dan  merangsang pelepasan renin  yang  pada akhirnya  membatasi kehilangan air dan garam-garam pada urine melalui perangsangan reabsorbsi di nepron.

RANGKUMAN

 

Dari uraian mengenai struktur dan fungsi sistem urinaria pada manusia maka dapatlah disimpulkan sebagai berikut:

       Struktur  sistem urinaria  terdiri dari ginjal, ureter, vesika urinaria dan uretra. Sistem urinaria mempunyai 3 fungsi utama yaitu:  ekskresi, membuang sisa-sisa metabolisme dan pengaturan homeostasis.    Ginjal manusia  terdiri dari sepasang,  berwarna cokelat kemerah-merahan. Ginjal   terdiri dari korteks di bagian luar dan  medulla di bagian. medula renalis terdiri dari 6 sampai 18  struktur yang berbentuk trianggular yang disebut piramid renalis. Setiap piramid mempunyai serangkaian lekuk  runcing yang  berkumpul di papilla.  Papila papilla dibatasi oleh pita yang disebut kolumna  renalis.yang meluas ke medulla.    Produksi urine terjadi di lobus renalis. 

       Unit fungsional dari ginjal adalah nepron yang pada manusia jumlahnya ada kira-kira 1 juta setiap ginjal.  Setiap nepron terdiri dari  korpus renalis yang terdiri dari glomerulus dan kapsula Bouman dan tubulus renalis yang terdiri dari tubulus kontortus proksimalis, lengkung Henle dan tubulus kontortus distalis . 

        Empat  sampai 5 kaliks minor bergabung membentuk kaliks mayor dan 2 atau 3 kaliks mayor  bergabung membentuk pelvis renalis yang berhubungan dengan ureter, visika urinaria dan uretra. Pada pria ureter lebih panjang dibandingkan dengan wanita.  Ginjal  mendapatkan suplai darah dari arteri renalis dan dipersarafi oleh saraf  saraf simpatis yang berasal pleksus siliaca dan saraf splanknik inferior.

 

Kegiatan  Belajar

2

MEKANISME   PEMBENTUKKAN  URINE

 

 
   

 

1.       Mekanisme Pembentukkan Urine

Dalam melakulan fungsinya, ginjal  melakukan 3 proses yang berbeda  (Gambar 4) yaitu:

  • Filtrasi : Proses filtrasi terjadi di korpus renalis. Tekanan darah yang kuat memaksa air dan solut melintasi dinding kapiler glomerulus dan masuk ke ruang kapsular.  Molekul solut yang cukup kecil melintasi membran  filtrasi. sehingga akan terbentuk filtrat glomerulus.  Laju filtrasi glomerular (Glomerular filtation rata = GFR) merupakan jumlah filtrat yang dihasilkan oleh ginjal setiap menit.  Setiap ginjal memiliki kira-kira 6 m2 permukaan filtrasi dan rata-rata  GFR adalah 125 mL/menit. Jadi ada kira-kira 10% cairan yang dibawa ke ginjal oleh arteri renalis meninggalkan aliran darah dan masuk ke ruang kapsular. 
  • Reabsorbsi:  Merupakan proses dimana  terjadi pemindahan air dan solut dari filtrat glomerulus. Pergerakannya melintasi epithelium tubulus masuk ke dalam cairan peritubular. Reabsorbsi terjadi setelah filtrat glomerulus meninggalkan korpus renalis dan pada umumnya yang diabsorbsi adalah material-material yang masih digunakan oleh tubuh.  Reabsorbsi air dan solut terjadi terutama di sepanjang tubulus proksimalis tetapi juga di sepanjang tubulus renalis dan dalam sistm tubulus pengumpul
  • Sekresi:  Merupakan proses transport solut dari cairan peritubular melintasi epithelium tubular ke cairan tubular.  Sekresi sangat penting karena tidak semua material dalam plasma dikeluarkan melalui filtrasi.  Sekresi sering merupakan cara utama  untuk menekskresikan beberapa komponen termasuk otat-obatan.   Sekresi terjadi terutama di tubulus proksimalis dan distalis.

Proses reabsorbsi dan sekresi di ginjal meliputi kombinasi antara difusi, osmosis, difusi yang diperantarai saluran (channel-mediated fiffusion) dan transport yang diperantarai pembawa (carrier-mediated transport)

Tujuan produksi urine adalah mempertahankan  homeostasis dengan mengatur volume dan komposisi darah.  Proses ini meliputi ekskresi solut khususnya sisa-sisa metabolisme .  Ada 3 sisa metabolik  yang penting yaitu :

  • Urea :   merupakan hasil buangan  yang paling banyak. Ada kira-kira 21 gr/hari  yang merupakan pemecahan dari asam amino
  • Kreatinin:  merupakan hasil buangan pemecahan kreatin fosfat dalam otot skelet yang merupakan  komponen energi tinggi  penting dalam kontraksi otot.  Tubuh kita menghasilkan kreatinin 1,8 gr/hari dan semuanya diekskresikan melalalui urine.
  • Asam urat:  Merupakan hasil buangan metabolisme basa nitrogen dari molekul RNA.  Tubuh kita menghasilkan hampir 480 mg asam urat setiap hari.

Lebih dari 99% dari 180 L filtrat yang dihasilkan setiap hari oleh glomeruli direabsorbsi dan tidak pernah mencapai pelvis renalis. Adapun komposisi normal urine  seperti yang terlihat pada Table 1.

 

Tabel 1.  Karakteristik umum  urine normal

Karakteristik

Kisaran Normal

pH

gravitas spesifik

konsentrasi osmotic

kandungan air

volume

warna

bau

kandungan bakteri

4.5-8 (rata-rata: 6.0)

1.003-1.030

855-1335 mOsm/L

93-97%

700-2000 mL/hari

Kuning jernih

Bervariasi sesuai komposisi

0 (steril)

 

2.       Mekanisme Refleks Mikturasi dan Urinesasi

       Urine mencapai vesika urinaria akibat kontraksi peristaltik ureter.  Proses urinisasi diatur oleh refleks  mikturasi.  Reseptor perenggangan  pada dinding vesika urinaria  terangsang seiring dengan pengisian vesika urinaria.  Serabut-serabut saraf  dari saraf pelvis membawa impuls  ke batang spinalis di bagian sakral  dimana  dengan adanya  peningkatan aktivitas dalam serabut saraf maka: 1) menfasilitasi motor neuron parasimpatis  di batang spinal sakral dan 2) merangsang interneuron yang menyampaikan sensasi ke thalamus dan melalui tonjolan-serabut ke korteks serebrum.  Akibatnya,  kita menjadi sadar  akan tekanan cairan dalam vesika urinaria.  Dorongan untuk kencing pada umumnya muncul ketika vesika urinaria terisi  kira-kira 200 ml urine.  

 

3.        Laju Filtrasi Glomerular (Glomerular Filtration Rate=GFR)

      Laju filtrasi glomerular (LFG) merupakan jumlah filtrat yang dihasilkan oleh ginjal  setiap menit.  Setiap ginjal memiliki kira-kira 6 m2 permukaan filtrasi dan rata-rata LFG 125 mL per menit.  Hal ini menunjukkan bahwa kira-kira 10% cairan yang dibawa ke ginjal oleh arteri renalis meninggalkan aliran darah dan memasuki ruang kapsular.  LFG tergantung pada tekanan filtrat yang melintasi kapiler glumerulus.  Ginjal sangat sensitif terhadap perubahan tekanan darah.  Apabila tekan darah dalam glomerulus turun sampai 20% (dari 50 menjadi 40 mmHg) filtrasi ginjal akan terhenti, oleh karena tekanan filtrasi menjadi 0 mm Hg.  Pendarahan, syok dan dehidrasi menyebabkan bahaya penurunan LFG sehingga mengakibatkan kegagalan ginjal.

        Filtrasi glomerular merupakan langkah awal yang sangat esensial bagi semua fungsi ginjal.  Apabila filtrasi tidak terjadi maka produk buangan tidak dapat diekskresikan, pengaturan pH terancam bahaya dan mekanisme penting untuk mengatur volume darah hilang.  Filtrasi sangat tergantung pada kecukupan aliran darah ke glomerulus dan mempertahankan  tekanan filtrasi dalam keadaan normal.  Terdapat 3 mekanisme yang berinteraksi  dalam pengaturan untuk menstabilkan LFG yaitu : 1) otoregulasi, pada tingkat lokal, 2) pengaturan hormonal dan 3)  pengaturan otonom

 

3.1.    Otoregulasi Laju Filtrasi Glomerular   

      Otoregulasi mempertahankan kecukupan LFG meskipun terdapat perubahan tekanan darah lokal dan aliran darah.   Mempertahankan LFG melalui perubahan diameter arteriol afferent dan kapiler glomerular

3.2.    Pengaturan hormonal pada LFG

       Laju filtrasi glomerular dikontrol oleh hormon-hormon  sistem renin angiotensin (Gambar 5) dan peptida natriumuretik.  Pelepasan renin dipicu oleh :  1)  penurunan tekanan darah pada glomerulus akibat penurunan volume darah, 2) perangsangan juxtaglomerular oleh persarafan simpatis, atau 3) penurunan konsentrasi osmotik cairan tubular pada makula densa.  Pada saat dilepaskan ke aliran darah kompleks juxtaglomerular, renin merubah protein inaktif angiotensinogen menjadi angiotensin I yang juga inaktif.  Angiotensin kemudian dirubah menjadi angiotensin II oleh enzim-perubah angiotensin terutama di kapiler paru-paru. Angitensin II merupakan hormon aktif yang berfungsi sebagai berikut :

  • Di nephron,  angiotensin II menyebabkan  konstriksi arteriol afferent, selanjutnya meningkatkan tekanan glomerular dan laju filtrasi.  Angiotensin II juga secara langsung merangsang reabsorbsi ion Na dan air di tubulus kontortus proksimalis.
  • Di korteks adrenal, angiotensin  II merangsang sekresi aldosteron.  Aldosteron berfungsi meningkatkan reabsorbsi Na+ di tubulus kontortus distalis dan bagian korteks   sistem pengumpul
  • Di SSP, aniotensin II menyebabkan :  1) sensasi haus, 2) memicu pelepasan ADH yang merangsang reabsorbsi air di bagian tubulus kontortus distalis dan sistem pengumpul dan 3) meningkatkan tonus, mobilisasi cadangan venous, meningkatkan keluaran jantung dan merangsang vasokonstriksi peripheral.
  • Pada jaringan kapiler peripheral, angiotensin II menyebabkan vasokonstriksi singkat namun kuat pada spinkter prekapiler, meningkatkan tekanan arterial seluruh bagian tubuh.

Penggabungan pengaruh tersebut meningkatkan volume darah sistemik dan tekanan darah sehingga mengembalikan laju filtrasi glomerular dalam keadaan normal.

 

3.3.            Pengaturan otonom

        Kebanyakan  persarafan otonom di ginjal terdiri dari serabut-serabut postganglion simpatis.  Aktivasi simpatis merupakan efek langsung terhadap LFG yaitu menghasilkan vasokonstriksi yang sangat kuat  pada arteriol afferent, menurunkan LFG dan memperlambat produksi filtrat.  Jadi,  aktivasi simpatis  dipicu penurunan yang akut tekanan darah atau serangan jantung sehingga mengesampingkan mekanisme regulasi lokal yang bekerja untuk menstabilkan LFG.  Seiring dengan berlalunya krisis, tonus simpatis menurun, laju filtrasi perlahan-lahan kembali ke keadaan normal.

 

4.      Pengaturan volume urine dan konsentrasi osmotik

         Kandungan air tubuh, biasanya diatur dengan sangat tepat.  Oleh karena itu maka  kehilangan air terus menerus harus diseimbangkan oleh masukan dan produksi air yang sesuai.  Rata-rata masukan air adalah 2.5 L/hari yang terdiri dari minum kira-kira 1.3 L/hari, makanan kira-ira  0.9 L/hari dan air oksidasi yang berasal dari makanan.   Sementara kehilangan air terdiri dari :  melalui urine kira-kira 1.5 L/hari, melalui udara ekspirasi dan kulit  dan yang terkandung dalam feses.  Rata-rata penggantian air pada orang dewasa kira-kira 1/30 dari berat badan, sedangkan pada bayi jauh lebih tinggi yaitu 1/10.  Hal inilah yang menyebabkan bayi lebih sensitif terhadap gangguan keseimbangan air. Kekurangan air mengakibatkan sensasi  haus yang  dikendalikan oleh pusat haus di hipotalamus akibat peningkatan osmolalitas cairan tubuh dan oleh peningkatan konsentrasi angiotensin II dalam cairan ekstraseluler.

        Volume urine dan konsentrasi osmotik diatur melalui pengaturan  reabsorbsi air (Gambar 6).  Air direabsorbsi melalui osmosis di tubulus kontortus proksimalis dan lengkung nepron desendens.  Permiabilitas air di daerah ini tidak dapat diatur dan reabsorbsi  apabila konsentrasi osmotik cairan peritubular melebihi cairan tubular. Bagian asendens lengkung nepron tidak permiabel terhadap air namun,  1-2% volume air dalam filtrat  diperoleh selama reabsorbsi ion Na pada tubulus kontortus distalis dan sistem pengumpul.  Volume air yang hilang dalam urine tegantung pada seberapa banyak air yang tertinggal di cairan tubular.(15% dari volume filtrat atau kira-kira 27 L/hari direabsorbsi sepanjang tubulus kontortus distalis dan sinstem pengumpul.  Jumlah ini dapat dikontrol dengan tepat oleh proses yang disebut dengan facultative water reabsorption.  Kontrol yang tepat ini memungkinkan oleh karena segmen ini relatif impermiabel terhadap air kecuali kehadiran ADH.  Hormon ini mempenaruhi tubulus agar permiabel terhadap air.

       Kelebihan air menyebabkan penurunan osmolalitas cairan ekstraseluler.  Sinyal ini menghambat pelepasan ADH sehingga ekskresi urine menjadi hipoosmotik dan dalam waktu sekitar 1 jam kelebihan air telah dikeluarkan.  Bila masukan air terlalu cepat kemungkinan akan terjadi intoksikasi air (mual, muntah, syok).  Hal ini terjadi akibat osmolalitas plasma menurun secara drastis sebelum penghambatan pelepasan ADH menjadi efektif.

       Bila pada kandungan air normal, bila terlalu banyak NaCl hilang atau terlalu sedikit  masukan melalui makanan maka terjadi penurunan osmolalitas darah sehingga menyebabkan penurunan sementara pelepasan ADH.  Penurunan ADH menyebabkan peningkatan ekskresi air.  Akibatnya, cairan ekstraseluler dan volume plasma turun dan juga tekanan darah turun.  Hal ini menyebabkan pelepasan angiotensin II sehingga menyebabkan haus dan juga merangsang pelepasan aldosteron.  Aldosteron meningkatkan reabsorbsi Na+ dengan menghambat ekskresi Na+ (retensi Na+ ) dengan efek sekunder juga retensi air.

       Kelebihan garam, meningkatkan osmolalitas plasma dan akibatnya juga meningkatkan sekresi ADH.  Volume cairan ekstraseluler meningkat demikian juga dengan volume plasma. Mekanisme ini merupakan kebalikan dari kekurangan garam.

5.       Diuresis

Diuresis adalah peningkatan ekskresi urine (> 1ml/menit).  Beberapa jenis diursis adalah sebagai berikut :

  • Diuresis air :   Terlalu banyak meminum air menyebabkan pengenceran plasma dan menurunkan sekresi ADH.  Akibatnya, urine hipoosmolal diekskresikan atau terdapat ekskresi air bebas.  Kejadian yang sama  bila terjadi kegagalan sekresi ADH seperti pada diabetes insisipidus.  Air bebas adalah jumlah air yang dikeluarkan melalui urine untuk mempertahankan osmolalitas plasma.
  • Diurisis Osmotik :  Bila zat terlarut yang tidak dapat diserap, diekskresikan harus disertai dengan jumlah air yang sesuai.
  • Diuresis tekanan :  Bila tekanan darah meningkat, otoregulasi mencegah peningkatan aliran plasma ginjal dalam korteks sementara pada bagian medulla otoregulasi kurang efektif. Aliran darah medulla meningkat dn menurunkan konsentrasi di medulla.  Hal ini menyebabkan penurunan gradian osmolaritas urine maksimum dan menyebabkan diuresis

 

RANGKUMAN

 

Dari uraian mengenai mekanisme pembentukkan urine maka dapatlah disimpulkan sebagai berikut:

       Dalam melakulan fungsinya, ginjal mempunyai  melakukan 3 proses yaitu proses filtrasi yang berlangsung di glomerulus sehingga menghasilkan filtrat glomerulus, kemudian  proses reabsorbsi dimana material  yang masih dibutuhkan oleh tubuh diserap kembali, dan sekresi material yang berasal dari jaringan peritubulus ke dalam tubulus sehingga akhirnya menghasilkan urine untuk diekskresikan. Adapun tujuan produksi urine adalah mempertahankan  homeostasis dengan mengatur volume dan komposisi darah.  Urine mencapai vesika urinaria akibat kontraksi peristaltik ureter.  Proses urineasi diatur oleh refleks  mikturasi dengan adanya reseptor perenggangan  pada dinding vesika urinaria  terangsang seiring dengan pengisian vesika urinaria.   

Laju filtrasi glomerular (LFG) merupakan jumlah filtrat yang dihasilkan oleh ginjal  setiap menit.  LFG dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu: 1) otoregulasi, pada tingkat lokal, 2) pengaturan hormonal dan 3)  pengaturan otonom.

        Kandungan air tubuh diatur dengan sangat tepat.  Oleh karena itu maka  kehilangan air  harus diimbangi oleh masukan dan produksi air yang sesuai.  Kelebihan air menyebabkan penurunan osmolalitas cairan ekstraseluler. Terlalu banyak NaCl hilang atau terlalu sedikit  masukan melalui makanan maka terjadi penurunan osmolalitas darah sehingga menyebabkan penurunan sementara pelepasan ADH.  Penurunan ADH menyebabkan peningkatan ekskresi air. .  Akibatnya, cairan ekstraseluler dan volume plasma turun dan juga tekanan darah turun.  Hal ini menyebabkan pelepasan angiotensin II sehingga menyebabkan haus dan pelepasan aldosteron.  Diuresis adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan ekskresi urine (> 1ml/menit).  Salah satu penyebanya adalah kurangnya sekresi ADH

 

DAFTAR PUSTAKA

Berne, R.M., M.N. Levy. 1990.  Principles of Physiology. Wolfe  Publication, Ltd.  USA.

Campbell, N.A., J.B. Reece., L.G. Mitchell.  2004.  Biologi. 5th  ed. Alih bahasa : Wasmen Manalu. Penerbit Erlangga.  Jakarta.

Despopoulos, A. dan S. Silbernagl.  1991. Color Atlas of Physiology.  Georg Thieme Verlag. Stuttgart, Germany.

Guyton, A.C. 1991.  Fisiologi kedokteran. 5th  ed. Alih bahasa A. Dharma dan P. Lukmanto.  Penerbit Buku Kedokteran jakarta

Hainsworth, F.R. 1981. Animal Physiology Adaptation in Function.  Adison-Wesley Publishing Company. Inc. Philippines.

Martini, F.H. and J. L. Nath.  2009.  Fundamental of Anatomy and Physiology.  Pearson International.  USA.

Sherwood, L.  2001.  Fisiologi Manusia. 2nd  ed.  Alih bahasa Brahm U.Pendit.  Penerbit Buku Kedokteran.  Jakarta.

Wilson, J.A.   1979.  Principles of Animal Physiologi.  2nd ed. Macmillan Publishing Co., Inc.  New York

PRESENTED BY RALDO RASUH

SPECIAL THANK’S TO : Dr. Tuju Eline Adeline ,sebagai dosen dan pemberi materi

 

 
Leave a comment

Posted by on February 20, 2013 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: