RSS

Sistem Reproduksi

21 Feb

Pendahuluan

        Sistem reproduksi sangat  esensial dalam kehidupan individu dalam mempertahankan spesies agar tidak punah. Untuk memahami sistem reproduksi pada manusia  maka pemahaman tidak saja  meliputi struktur dan fungsi  organ-organ reproduksi, tetapi juga  bagaimana organ reproduksi menghasilkan dan menyimpan sel-sel  reproduktif kemudian menggabungkannya untuk membentuk individu baru serta mekanisme hormonal yang berperan dalam memelihara fungsi reproduksi secara  normal. Dalam modul ini diketengahkan sistem reproduksi pria dan sistem reproduksi wanita.

SISTEM  REPRODUKSI  PRIA

 

  1. 1.             Pendahuluan

         Sistem reproduksi pria, selain menghasilkan gamet juga menghasilkan  hormon seks.  Organ utama pada  sistem reproduksi pria  adalah: Gonad  (testis),   merupakan organ reproduksi yang menghasilkan gamet; duktus yang menerima dan membawa gamet; kelenjar asesoris dan organ-organ yang mensekresikan  cairan ke dalam duktus sistem reproduksi atau ke duktus sekretoris lainnya serta struktur perineal yang secara keseluruhan dikenal sebagai genetalia eksterna

Untuk memahami sistem reproduksi pada pria,  maka pemahaman tidak saja  meliputi struktur dan fungsi  organ-organ reproduksi pria, tapi juga bagaimana proses terjadinya spermatogenesis dan mekanisme hormonal yang mempengaruhinya.

 

2.        Struktur dan Fungsi Sistem Reproduksi Pria

Struktur sistem reproduksi terdiri dari testis, saluran yang membawa sperma yang dihasilkan,  kelenjar asesoris dan genetalia eksterna (Gambar 1.).

 

2.1.     Testis

        Pada pria, testis  (Gambar 2) terdiri dari 2 buah berbentuk ovoid dengan panjang sekitar 5 cm, lebar 3 cm,  tebal 1.2 cm dengan bobot kira-kira 10-15 gram setiap testis.  Testis tergantung  dalam skrotum.   Skrotum dibagi ke dalam 2 bagian  dimana keduanya dibatasi oleh penebalan permukaan skrotum  yang disebut raphe.  Skrotum terdiri dari lapisan kulit yang tipis dengan  lapisan   fasia supervisialis di bawahnya.  Dermis terdiri dari  lapisan otot polos  yaitu otot dartos.  Pada saat otot beristirahat testis terangkat sehingga mengakibatkan  permukaan  skrotum mengerut.  Otot kremaster merupakan otot rangka yang terdapat pada lapisan  dalam.  Kontraksi otot ini dapat mendorong terstis mendekati tubuh sebagai respons terhadap penurunan suhu tubuh  atau selama kebangkitan seksual. Kedalaman tunika vaginanalis ditutupi oleh tunika albugenia yang merupakan lapisan jaringan ikat padat yang kaya akan serabut-serabut kolagen. Terusan serabut-serabut ini membentuk pembatas yang dikenal dengan septum.

Pada setiap lobulus terdapat  kira-kira 800 tubulus seminiferous berbentuk silinder yang  berbelit rapat tempat dimana  sperma dihasilkan.  Sperma dihasilkan melalui proses yang dikenal dengan spermatogenesis.

 

Spermatogenesis : Pada kehidupan fetal, saat sel-sel benih primordial tiba genetal ridge mereka bergabung dengan sexs cord dan tetap disana sampai mengalami pematangan. diwaktu mana  sexs cord  melubangi  membentuk tubulus seminiferous.

  • Mitosis : Setelah mencapai gonad maka sel-sel benih akan membagi menjadi spermatogonium. A..  Pada saat matang maka spermatogonium A membagi lebih banyak spermatogonium A1 dimana setiap spermatogonium A1 merupakan selsel batang yang  dapat  menghasilkan sel baru A2 dan seterusnya A3, A4 dan menurunkan permatogonium intermedia. Spermatogonium intermedia  kemudian  menjadi spermatogonium B yang nantinya membagi secara mitosis menjadi spermatosit primer
  • Miosis :  Setiap spermatosit primer mengalami pembelahan miosis I membentuk spermatosit sekunder  yang kemudian dilengkapi dengan pembelahnan miosis II membentuk spermatit
  • Spermiogenesis:  Merupakan langkah dimana terjadi pematangan sperma serta  diferensiasi sel secara fisik memjadi spermatozoa dewasa.

Selain terdapat sel-sel spermatogenik, juga terdapat sel Sertoli atau sel-sel pemelihara.   Adapun fungsi dari sel pemelihara adalah:

1).   Memelihara  Blood-testis barrier

2)    Menunjang terjadinya proses spermatogenesis

3)    Mensekresikan inhibin

4)    Mensekresikan Androgen-Binding Protein.

 Di antara  tubulus terdapat ruangan yang mengandung sejumlah pembuluh darah dan sel-sel intersisial (sel intersisial Leydig).  Sel-sel intersisial Leydig menghasilkan hormon testosteron,  merupakan hormon seks yang   banyak terdapat  pada pria.  

 

2.2.     Rete testis dan duktus efferent

Setiap tubulus melakukan  putaran  membentuk jalan yang berbelit yang dikenal dengan rete testis. Rete testis mengalirkan isinya ke duktus efferens dan  biasanya 15 -20 duktus efferens menghubungkan rete testis dengan duktus epididimis.

 

2.3.     Duktus Epididimis

Epididimis dapat diraba melalui kulit skrotum. Panjang salurannya  hampir 7 m, berbelit-belit dan bergulung-gulung sehingga  sangat sedikit terdapat ruangan. Epididmis terbagi menjadi  kepala, badan dan ekor.  Fungsi epididimis yaitu:

  1. Memantau dan mengatur komposisi cairan yang dihasilkan oleh  tubulus seminiferous.  Sel-sel epitel kolumnar  bertingkat semu dengan steriosilis yang melapisi  epididmis  berfungsi untuk meningkatkan tersedianya area absorbsi dan sekresi cairan yang lebih luas di dalam tubulus,
  2. Bekerja untuk mendaur ulang spermatozoa yang rusak. Mengabsorbsinya dalam epididimis melalui pemecahan secara enzimatik dan melepaskannya  ke cairan intersisial sel sekelilingnya untuk diambil oleh pembuluh darah epididimis.
  3. Menyimpan dan melindungi spermatozoa dan menfasilitasi pematangan fungsional.  Spermatozoa melalui epididimis dan melengkapi pematangan sperma  dalam waktu kira-kira 2 minggu. Meskipun pematangan sperma berlangsung di epididimisnamun  mereka masih  belum mempunyai kemampuan untuk bergerak..  Untuk mendapatkan kemampuan bergerak dan fungsional sepenuhnya sperma harus mengalami  kapasitasi. Secara normal, kapasitasi terjadi melalui 2 langkah yaitu: 1) apabila bercampur dengan  sekresi kelenjar seminalis dan 2) apabila sukses  melakukan fertilisasi ketika  terpapar dengan  kondisi di saluran  reproduksi wanita.

Perjalanan sperma di epididimis  melibatkan kombinasi pergerakan cairan dan gerakan peristaltik otot polos  dinding epididimis.  Setelah melewati epididimis, sperma masuk ke duktus deferent.

 

2.4.     Duktus Deferens

        Setiap duktus deferent  panjangnya 40-45 cm, dimulai dari bagian ekor epididimis.  Di dalam  rongga abdomen, duktus deferen mengarah ke belakang, melengkung ke bawah sepanjang permukn samping vesika urinaria kearah atas dan belakang berbatasan dengan kelenjar prostat.  Sebelum mencapai kelenjar prostat dan kelenjar seminalis,  terjadi pembesaran lumen yang dikenal dengan ampula.  Dinding duktus deferens mengandung lapisan tebal otot polos.  Kontraksi peristaltik otot polos  mendorong  spermatozoa dan cairan sepanjang duktus yang mempunyai epithelium kolumnar bersilia bertingkat semu. Selain itu, duktus deferens juga berfungsi untuk menyimpan spermatozoa selama beberapa bulan. Selama waktu ini spermatozoa dalam keadaan mati suri dan memiliki metabolisme yang rendah.  Tempat pertemuan  ampula dengan  duktus kelenjar seminalis merupakan permulaan  duktus eyakulatoris.

 

2.5.       Uretra

 

Pada pria, uretra  panjangnya 18-20 cm dari vesika urinaria sampai ujung penis yang terdiri dari daerah prostatik, membranous dan spons.  Uretra pada pria merupakan pelintasan bersama urinaria dan sistem reproduksi.

 

2.6.     Organ genetalia eksterna

            Genetalia eksterna pria terdiri dari skrotum dan penis.  Penis merupakan organ tubular dimana terdapat uretra yang berfungsi mengeluarkan urine ke luar tubuh dan menyalurkan semen ke vagina wanita selama koitus. Susunan kulit  yang terdapat di penis  menyerupai yang terdapat pada skrotum.  Lipatan kulit yang mengelilingi ujung penis disebut prepusa yang bersentuhan dengan leher yang relatif sempit  dari penis.  Kelenjar  prepusial pada kulit dari leher  dan permukaan dalam  prepusa  mensekrsikan  material yang berupa lilin  yang disebut  smegma.  Smegma tidak menguntungkan karena merupakan sumber nutrisi bagi bakteri.  Kebanyakan badan penis terdiri dari 3 kolum berbentuk silinder jaringan erektil.  Permukaan anterior  yang lembut penis ditutupi oleh 2 massa jaringan erektil silendris yang disebut korpora kavernosa. Jaringan erektil pada  setiap korpora kavernosa dikelilingi oleh arteri sentral. Penil uretra dikelilingi oleh korpus spongiosum.  Lembaran yang mengelilingi korpus spongiosum  mengandung banyak serabut elastis dan jaringan erektil yang mengandung arteri-arteri kecil.

 

  1. 3.              Kelenjar assesoris.

           Kontribusi cairan tubulus seminiferous dan epididimis jumlahnya hanya kira-kira 5 % dari volume semen.  Komponen semen merupakan percampuran  beberapa kelenjar yaitu kelenjar seminalis, prostat dan bulbo-uretralis.  Fungsi utama  kelenjar-kelenjar tersebut adalah: 1) mengaktifkan spermatozoa, 2) menyediakan nutrisi yang dibutuhkan untuk motilitas  3)  mendorong spermatozoa dan cairan  sepanjang traktus reproduksi  dan  4) sebagai penyanggah untuk menghadapi keasaman  lingungan uretra dan vagina

 

3.1.     Kelenjar seminalis (Vesikula Seminalis)

         Kelenjar seminalis  juga disebut vesikula seminalis terselip di antara dinding posterior vesika urinaria dan rektum, merupakan kelenjar tubular dengan panjang kira-kira 15 cm.  Kelenjar seminalis menyumbang kira-kira 60 volume dari semen.  Sekresi dari kelenjar seminalis mengandung: 1) fruktosa yang mudah dimetabolisme oleh spermatozoa,  2) prostaglandin yang merangsang kontraksi otot polos sepanjang traktus reproduksi dan  3) fibrinogen dimana setelah eyakulasi membentuk pmbekuan sementara di vagina.  Sekresi kelenjar seminalis agak alkalis menolong menetralisir  asam yang terdapat dalam  sekresi kelenjar prostat dan vagina.  Percampuran dengan kelenjar sminalis merupakan langkah awal spermatozoa mengalami  kapasitasi dan peningkatan  motilitas.

 

3.2.     Kelenjar prostat

        Kelenjar prostat merupakan organ  yang kecil, muskular, berbentuk bulat dengan diamteter kira-kira 4 cm.  Kelenjar prostat  mengelilingi  bagian proksimal uretra ketika uretra meninggalkan vesika urinaria.  Jaringan kelenjar prostat terdiri dari kumpulan 20-30 kelenjar tubuloalveolar yang menghasilkan  cairan prostat. Cairan prostat merupakan cairan yang  agak sedikit  asam dan menyumbang kira-kira 20-30% volume semen. Mengandung plamin seminalis yang  merupakan antiibiotik untuk  mencegah infeksi traktus urinaria  pada pria.

 

3.3.      Kelenjar Bulbouretralis (Kelenjar Cowper)

       Kelenjar bulbouretralis terdapat sepasang di dasar penis.,  berbentuk bulat  dengan diameter kira-kira 10 mm.  Duktus dari setiap kelenjar berjalan 3-4 cm di sepanjang sisi penil uretra  sebelum mengosongkan isinya ke dalam lumen uretra. Sekresinya berbentuk mukus yang kental, bersifat alkalis yang berfungsi menetralkan keasaman urin dan tetap di uretra  meminyaki glanpenis  atau ujung penis.

 

3.4.     Semen

        Pada umumnya,  eyakulasi mengeluarkan 2-5 ml semen. Ketidaknormalan  dimana jumlah volume yang rendah merupakan indikasi  kegagalan kelenjar prostat atau kelenjar seminalis. Volume cairan yang dihasilkan ketika eyakulasi disebut eyakulat.

 

4.        Hormon  Reproduksi pria

        Interaksi antara hormon-hormon yang mengatur fungsi reproduksi pria seperti terlihat pada Gambar 4.  Adenohipofisis melepaskan  Follicle Stimulating Hormon (FSH) dan Luteinizing Hormon (LH) akibat respons  terhadap Gonadotropin Releasing Hormon (GnRH)  yang disekresikan oleh hipotalamus dan dibawa ke hipofisis melalui sistem portal hipofisial.

4.1.     Follicle Stimulating Hormone (FSH)

         Pada pria target utama FSH adalah  sel-sel pemelihara (sel Sertoli) di tubulus seminiferous.  Di bawah rangsangan FSH dan dengan adanya testosteron dari sel-sel intersisial, maka sel-sel Sertoli meningkatkan proses spermatogenesis dan  nensekresikan androgen-binding protein(ABP).  Laju spermatogenesis diatur melalui mekanisme umpan balik yang meliputi GNRH, FSH dan inhibin. Di bawah rangsangan GNRH, FSH memacu proses spermatogenesis di tubulus seminiferous dan ketika terjadi peningkatan spermatogenesis maka laju sekresi inhibin meningkat yang pada akhirnya menghambat produksi FSH pada adenohipofisis dan mungkin menekan sekresi  GnRH oleh Hipotalamus. Pada akhirnya, kadar  FSH kembali ke keadaan normal.

4.2.    Luteinizing Hormon  (LH)

        Pada pria LH merangsang sel-sel intrsisial Leydig untuk menghasilkan testosteron oleh karena itu, sering disebut juga Interstitial cell Stimulating Hormone (ICSH). Testosteron merupakan androgen yang paling penting yang berfungsi :

1). Merangsang proses spermatogenesis dan memacu pematangan fungsional  spermatozoa

2).   Mempengaruhi  fungsi Sistem Saraf Pusat (SSP)  termasuk libido seksual dan yang berkaitan dengan tingkah laku

3).  Merangsang  metabolisme seluruh tubuh khususnya yang berhubungan dengan sintesis protein, pembentukan sel-sel darah merah dan pertumbuhan otot

4)   Membentuk dan memelihara   karakter seks sekunder seperti distribusi rambut di wajah, meningkatkan massa tubuh dan ukuran tubuh, cadangan  jaringan lemak

5)     Memelihara kelenjar assesoris dan organ traktus reproduksi.

RANGKUMAN

 

Dari uraian mengenai system reproduksi pria  maka dapatlah disimpulkan sebagai berikut:

          Sistem reproduksi pria, selainmenghasilkan gamet juga menghasilkan hormon seks.  Struktur sistem reproduksi pria terdiri dari testis,  saluran yang membawa  sperma, kelenjar asesoris  dan genetalia eksterna. Testis merupakan organ reproduksi utama karena merupakan tempat dimana sperma dihasilkan.  Proses spermatogenesis berlangsung dalam tubulus seminiferous.   Sperma yang dihasilkan di salurkan ke rete testis, duktus eferens, duktus epididimis, duktus deferens.  Selama perjalanannya sperma mendapatkan proses pematangan di duktus epididimis.  Selama belum dieyakulasikan, sperma disimpan di duktus deferens.  Sperma selanjutnya dikeluarkan melalui uretra.

Selama melalui saluran-saluran reproduksi  semen menerima cairan tambahan dari kelenjar-kelenjar asesoris :  kelenjar seminalis, prostat dan bulbouretralis membentuk volume eyakulat.

         Sistem reproduksi pria dipengaruhi oleh hormon yang berasal dari adenohipofisis yaitu gonadotropin yang terdiri dari FSH dan LH.  Bersama testosteron yang dihasilkan oleh sel sel intersisiel, FSH meningkatkan proses spermatogenesis.  LH berfungsi merangsang sel-sel intersisial untuk menghasilkan  testosteron yang berperan penting dalam proses spermatogenesis dan  membentuk serta memelihara karakter seks sekunder pria.

SISTEM  REPRODUKSI  WANITA

 

  1. 1.                Pendahuluan

         Sistem reproduksi wanita, selain menghasilkan gamet, hormon seks, juga  menunjang pemeliharaan pertumbuhan embrio dan memberikan nutrisi pada anak yang baru dilahirkan.   Organ utama pada  sistem reproduksi wanita   adalah: Gonad  (ovarium)   merupakan organ reproduksi yang menghasilkan gamet, tuba/saluran  yang menerima dan membawa gamet dan tempat dimana terjadi fertilisasi, uterus yang merupakan tempat dimana embrio berkembang serta struktur penunjang lainnya seperti vagina dan genetalia eksterna.

 

2.         Struktur dan Fungsi Sistem Reproduksi Wanita

Organ utama pada  sistem reproduksi wanita adalah :  ovarium, tuba uterus, uterus dan genetalia eksterna (Gambar 5 ).   

 

2.1.      Ovarium

          Ovarium terdapat sepasang, merupakan organ yang berbentuk almond berada dekat dinding lateral rongga pelvis.  Fungsi ovarium adalah:  1)  menghasilkan ovum (oosit),  2) mensekresikan hormon seks wanita dan 3) mensekresikan inhibin yang terlibat dalam pengaturan mekanisme umpan balik produksi FSH di pituitari. Ovarium memiliki  panjang kira-kira 5 cm, lebar 2.5 cm dan ketebalan 8 mm dengan bobot kira-kira 6-8 g. Posisi setiap ovarium diseimbangkan oleh mesovarium dan ligamen penunjang ligament ovarium dan ligament infundibulopelvis.

       Ligamen infundibulopelvis mengandung pembuluh darah utama arteri dan vena ovari yang dihubungkan ke ovarium pada hilum dimana ovarium berhubungan dengan mesovarium. Ovarium terdiri dari bagian korteks dan medulla.  Dibagian korteks terdapat banyak folikel mulai dari folikel primer sampai folikel de Graff, korpus luteum hingga korpus albikans sedangkan pada bagian medulla terdapat banyak kapiler darah.

1).       Oogenesis

        Produksi ovum dimulai sebelum lahir, meningkat pada waktu pubertas dan berakhir pada waktu menopause.  Antara pubertas dan menopause oogenesis terjadi setiap bulan berdasarkan siklus ovarium.  Oogonium atau sel-sel benih (stem cells)  melengkapi pembagian mitosisnya antara bulan ke-3 dan  ke-7 perkembangan fetal.  Oogonium membagi secara mitosis menjadi sel-sel anak oosit primer yang kemudian mengalami miosis.  Oosit primer tetap melangsung pada profase kemudian terhenti, sampai kemudian dilanjutkan ketika individu mencapai pubertas, ketika level FSH meningkat. Tidak semua oosit primer mencapai pubertas.  Pada waktu lahir, ovarium mengandung kira-kira 2 juta folikel primordial yang setiap folikel mengandung oosit primer dan pada waktu lahir berkurang menjadi 400.000.  Sisanya mengalami atresia.  Oosit primer kemudian mengalami miosis I menjadi oosit sekunder dan miosis ke II menjadi oosit.

2).        Siklus ovarium

Folikel ovarium merupakan struktur khusus yang terdapat di korteks dimana pertumbuhan oosit dan miosis I berlangsung.  Oosit primer  terdapat di bagian luar korteks ovarium dekat  dengan tunika albugenia.  Setiap oosit primer dikelilingi oleh lapisan sel-sel folikel selapis skuamosa.   Oosit primer bersama folikel disebut dengan folikel primordial.  Pembentukan folikel adalah sebagai berikut :

a.    Pembentukan folikel primer.  Perkembangan folikel dimulai dari pengaktivan   folikel primordial dalam folikel primer.  Sel-sel folikel membesar, membagi, membentuk beberapa lapisan  di sekeliling oosit primer yang bertumbuh.  Sel-sel folikel ini di kenal dengan sel-sel granulosa.  Mikrovili dari sekeliling sel-sel folikular membaur dengan mikrovili yang berasal dari permukaan oosit  membentuk zona pellusida. Seiring dengan membesarnya sel-sel granulosa, sel-sel yang bersebelahan di dalam stroma ovarium membentuk lapisan  yang dikenal dengan sel teka. Sel-sel teka dan granulosa bersama-sama menghasilkan hormon estrogen.

b.     Pembentukan  folikel sekunder. Dimulai dengan  penebalan dinding folikel dan bagian dalam folikel mulai mensekresikan sejumlah kecil cairan.  Cairan folikular atau liquor folliculi terakumulasi pada kantung kecil secara perlahan-lahan meluas dan memisahkan lapisan luar dan dalam folikel.  Pada tahapan ini dikenal sebagai folikel sekunder.

c.       Pembentukan  folikel tertier.  Terjadi pada 8 sampai 10 hari setelah mulai siklus        ovarium dan biasanya hanya terdapat 1 folikel sekunder yang berkembang lebih lanjut. Pada siklus folikel 10 sampai 14 hari berkembang menjadi folikel tertier atau folikel Graaf dengan diameter kira-kira 15 mm. Oosit menonjol ke dalam antrum atau meluas ke pusat kantung folikel.  Pada saat ini oosit primer masih tertahan pada meiosis I. Seiring dengan berakhirnya perkembangan folikel tertier, kadar LH mulai meningkat memicu oosit primer melengkapi miosis I. Oosit sekunder memasuki miosis II namun brhenti kembali pada saat metafase dan tidak sepenuhnya lengkap sampai terjadi fertilisasi.

d.      Ovulasi.   Pada saat ovulasi, folikel tertier melepaskan oosit sekunder. Dinding folikel yang menggelembung tiba-tiba  pecah, melemparkan isi folikel termasuk oosit sekunder dan korona radiata ke dalam rongga pelvis.  Oosit kemudian ditangkap oleh fimbria dan masuk ke  tuba uterus.

e.     Pembentukan dan degenerasi korpus luteum.  Setelah ovulasi, sisa-sisa sel-sel granulosa menyerbu area bekas folikel tertier, mengadakan proliferasi membangun struktur endokrin yang dikenal dengan korpus luteum. Proses ini terjadi dibawah pengaruh LH. Kolesterol yang terdapat di korpus luteum digunakan untuk menghasilkan progesteron.

f.        Degenerasi korpus luteum.  Dimulai kira-kira pada 12 hari setelah ovulasi kecuali apabila terjadi fertilisasi.  Konsentrasi progesteron dan estrogen turun, fibroblast menyerbu masuk ke korpus luteum yang nonfungsional membentuk jaringan parut yang dikenal dengan korpus albikans.  Disintegrasi atau involusi korpus luteum merupakan akhir dari siklus ovarium dan siklus baru dimulai lagi. 

 

2.2.     Tuba uterus

      Tuba uterus (oviduk atau tuba Fallopi) adalah saluran yang  berotot dengan panjang kira-kira 13 cm. Tuba uterus ditutupi oleh sel-sel epitel berbentuk torak bersilia dengan sel-sel yang mensekresikan lendir.  Selain untuk transportasi oosit dan juga sperma, tuba uterus juga berfungsi menyediakan nutrisi yang lingkungan yang kaya nutrisi  lipid dan glikogen.  Tuba uterus  dibagi dalam beberapa segmen yaitu:

  • Infundibulum:  Ujungnya berdekatan dengan ovarium membentuk sejumlah tonjolan yang berbentuk jari-jari ke rongga pelvis yang disebut fimbria .Permukaan dalam infundibulum terdapat silia yang mengayuh kearah segmen tengah tuba uterus yaitu ampula.
  • Ampulla :  Merupakan segmen dengan lapsan dinding  tebal dari otot polos yang secara berangsur-angsur  meningkat seiring tuba mencapai uterus.
  • Isthmus :  Merupakan segmen yang menghubungkan tuba dengan dinding uterus.

 

2.3.      Uterus

        Uterus merupakan organ yang berbentuk buah pir dengan panjang kira-kira 7.5 cm, lebar maksimum 5 cm dengan bobot 30-40 g. Uterus sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan embrio dan fetus karena berfungsi memberikan perlindungan mekanik,   suplai nutrisi dan membuang  sisa metabolisme.  Selanjutnya dinding otot uterus sangat penting dalam mengeluarkan fetus pada saat kelahiran.  Uterus difiksasi ditempatnya oleh 3 pasang ligamen untuk membatasi pergerakannya yaitu ligamen uterosakral, ligamen round dan ligament cardinal.

       Uterus terdiri dari daerah fundus yang merupakan bagian yang  berhubungan dengan tuba uterus, korpus yang merupakan bagian yang terbesar dari uterus dan isthmus  bagian akhir dari korpus.  Bagian bawah isthmus meluas ke vagina yang dikenal dengan  serviks.  Uterus menerima darah dari percabangn arteri uterin yang muncul dari percabangan arteri iliaka internal dan dari arteri ovarium yang berasal dari aorta abdominal inferior. Uterus dipersarafi oleh saraf otonom yang berasal dari  pleksus hipogastrik (simpatis) dan dari segmen sakral S3 dan S4 (parasimpatis).  Informasi sensoris mencapai SSP dalam akar dorsal saraf spinal T11 dan T12..

      Dinding uterus terdiri dari endometrium yang merupakan lapisan sebelah dalam yang tipis, banyak mengandung kelenjar, sedangkan sebelah luar adalah lapisan otot yang tebal miometrium.  Uterus dibungkus oleh membran serosa perimetrium. Endometrium memberikan kontribusi 10% sedangkan miometerium 90 %  terhadap bobot uterus.

2.4.     Vagina

Vagina merupakan saluran elastis yang berotot yang  terletak antara serviks dan vestibula dengan panjang 7.5-9 cm, namun bervariasi dalam diameter karena dapat menggelembung.   Pada ujung proksimal vagina terdapat tonjolan masuk ke kanal vagina.  Vagina disuplai darah oleh percabangan vagina dari arteri iliaka internal (uterine).  Persarafan berasal dari pleksus hipogastrik, saraf sakral S2-S4 dan percabangan saraf pudendal.  Vagina berfungsi: 

1).   Bekerja sebagai pelintasan untuk mengeluarkan cairan menstrual

2).  Menerima penis selama  koitus dan menampung spermatozoa sebelum masuk ke uterus

3)   Membentuk kanal inferior saluran kelahiran pada saat melahirkan.  Antara vagina dan vestibula dipisahkan oleh  lipatan epithelial elastis yang disebut hymen.

2.5.    Genetalia eksterna

       Daerah genetalia eksterna pada  wanita adalah vulva atau pudendum.  Vagina terbuka ke vestibulum ruangan sentral yang  dikelilingi oleh lipatan kecil yang disebut labia minora yang ditutupi oleh kulit  yang  kurang rambut.  Uretra terbuka ke dalam vestibula  tepat anterior jalan masuk vagina.  Kelenjar parauretralis  menyalurkan isinya ke dalam uretra dekat bukaan uterta eksternal.  Tepat di depan bukaan terdapat klitoris berbatasan dengan baian luar vulva  mons pubis dan labia mayora.

3.       Hormon-hormon  reproduksi wanita

Aktivitas sistem reproduksi wanita  di bawah pengaturan hormon.  Hormon-hormon yang terlibat yaitu:

1).   Gonadotrophin Releasing Hormon (GnRH) :  Dihasilkan oleh hipotalamus yang berfungsi mengatur  sekresi Gonadotropin di adenohipofisis.

2). Gonadotropin: Terdiri dari Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan           Luteinizing Hormon (LH) yang disekresikan oleh adenohipofisis.  FSH merangsang pertumbuhan folikel di ovarium sedangkan LH merangsang pematangan dan ovulasi serta memelihara korpus luteum mensekresikan hormon progesteron

3).   Estrogen : Dihasilkan oleh sel-sel granulosa folikel ovarium.  Adapun fungsinya adalah :

a.    Memacu pematangan folikel dan sel telur.

b.    Penebalan mukosa dan deposit glikogen di serviks

c.    Mengatur kecepatan migrasi sel telur di tuba Fallopi

d     Kapasitasi sperma untuk penetrasi sel telur

e.    Mengatur keseimbagan air dan garam pada ginjal

f.     Meningkatkan kerja osteoblas

g.     Meningkatkan metabolisme lipid

h      Melembutkan dan menghaluskan kulit

i.     Efek terhadap tingkah laku seksual,  sosial dan reaksi psikis.

4).   Progesteron :   Dihasilkan oleh korpus luteum.  Adapun fungsinya adalah:

a.    Menyiapkan traktus genetalia untuk menerima dan pematangan sel telur

b.    Memelihara kehamilan

c.     Merangsang pertumbuhan kelenjar susu.

          Pengaturan  hormon pada wanita lebih kompleks dibandingkan pada pria karena  harus ada koordinasi antara siklus ovarium dan uterus.  Frekuensi sentakan dan  amplitudo  (tinggi-rendahnya) jumlah yang disekrsikan setiap sentakan pengeluaran hormon berubah sepanjang  siklus ovrarium.   Pada pase folikuler awal, estrogen rendah dan frekuensi sentakan GnRH  adalah 16-24 kali /hari.  Pada frekuensi itu FSH merupakan hormon  dominan yang dilepaskan oleh adenohipofisis.  Estrogen dilepaskan oleh folikel yang bertumbuh menghambat sekresi LH. Seiring dengan  berkembangnya folikel sekunder, FSH menurun karena mekanisme umpan balik inhibin.  Perkembangan dan pematangan folikel berlangsung terus akitat kombinasi estrogen, FSH dan LH.  Seiring dengan terbentuknya 1 atau lebih folikel tertier konsentrasi estrogen  meningkat tajam.  Akibatnya frekuensi sentakan GnRH meningkat kira-kira 36 kali/hari yang pada akhirnya merangsang sekresi LH..  Tingginya level LH memicu terjadi ovulasi dan memicu sekresi progesteron dan pembentukan korpus luteum.  Seiring dengan  peningkatan progesteron dan penurunan  estrogen maka GnRH merangsang sekresi LH lebih dari FSH.   LH  berfungsi mempertahankan struktur dan fungsi sekretoris korpus luteum.

RANGKUMAN

 

Dari uraian mengenai sistem reproduksi wanita  dapatlah disimpulkan sebagai berikut:

          Sistem reproduksi wanita selain menghasilkan gamet dan hormon seks, juga  menunjang pemeliharaan dan pertumbuhan embrio serta anak yang baru dilahirkan. Organ utama sistem reproduksi wanita adalah ovarium yang menghasilkan gamet, tuba uterus, uterus dan genetalia eksterna.  Ovarium terdapat sepasang, tempat dimana oosit atau sel  telur dihasilkan melalui proses oogenesis.  Ovarium mengalami siklus dimulai dari pembentukan folikel primer sampai folikel tertier yang siap diovulasikan dan pembentukan korpus luteum. Tuba uterus merupakan tempat lintasan oosit maupun sperma untuk mengadakan fertilisasi.  Uterus merupakan kompartemen dimana embrio berkembang menjadi fetus hingga siap dilahirkan. 

       Aktivitas sistem reproduksi wanita sangat dipengaruhi oleh hormon: GN-RH yang dihasilkan oleh hipotalamus, gonadotropin yang dihasilkan oleh adenohipofisis dan estrogen dan progesteron yang dihasilkan oleh ovarium.

DAFTAR  PUSTAKA

 

 

 

Berne, R.M., M.N. Levy. 1990.  Principles of Physiology.Wolfe  Publication, Ltd.  USA.

 

Campbell, N.A., J.B. Reece., L.G. Mitchell.  2004.  Biologi. 5th  ed. Alih bahasa : Wasmen Manalu. Penerbit Erlangga.  Jakarta.

 

Despopoulos, A. dan S. Silbernagl.  1991. Color Atlas of Physiology.  Georg Thieme Verlag. Stuttgart, Germany.

 

Guyton, A.C. 1991.  Fisiologi kedokteran. 5th  ed. Alih bahasa A. Dharma dan P. Lukmanto.  Penerbit Buku Kedokteran jakarta

 

Gilbert, S.F. 1988. Developmental Biology.  Sinauer Associates, Inc Publishers.  Sunderland, Massachusetts

 

Knobil, E., J. D. Neil.  1988. The Physiology of Reproduction. Raven Press. New York.

 

Martini, F.H. and J. L. Nath  2009.  Fundamental of Anatomy and Physiology.  Pearson International.  USA.

 

McDonald, L.E. , M.H. Pineda.  1989.  Veterinary Endocrinology and Reproduction.  Lea and Febiner.  Philadelphia, London.

 

Sherwood, L.  2001.  Fisiologi Manusia. 2nd  ed.  Alih bahasa Brahm U.Pendit.  Penerbit Buku Kedokteran.  Jakarta.

 

Setchell, B.P.  1982.  Spermatogenesis and Spermatozoa.  Dalam Germ Cells and Fertilitation. Austin C.R. and R.V. Short.  Cambridge University Press. Cambridge.

Presented By Raldo Rasuh

special thank’s to : Dr. Tuju Eline Adelien sebagai dosen dan pemberi materi

 
Leave a comment

Posted by on February 21, 2013 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: